Minggu, 11 Juni 2017

MENGAPA DUNIA LEBIH MEMILIH CEO INDIA ?

LABEL ATAS
Mengapa Dunia (Lebih) Memilih CEO India?

Berita Opini Rakyat !

Saya yakin, kebanyakan orang di Indonesia mengetahui beberapa produk produksi perusahaan Unilever seperti Sunlight, (teh) Sariwangi, (kecap) Bango, (diterjen) Rinso, dll. Tetapi saya tidak begitu yakin orang-orang Indonesia juga mengetahui bahwa president director Unilever Indonesia, Hemant Bakshi, adalah seorang dengan kewarganegaraan India. Saat ini ia menggantikan posisi Maurits Daniel Rudolf, seorang Indonesia yang dahulu pernah menempuh pendidikan tinggi di Universitas Indonesia dan Kellogg School of Management di Northwestern University.

Saya pikir, kita semua juga tidak asing dengan nama Tony Fernandez. Ya, dia adalah CEO Air Asia yang cukup terkenal itu. Menariknya, Tony adalah warga negara Malaysia yang juga memiliki darah India. Sepertinya orang-orang India sedang naik daun belakangan ini.

CEO India di Dunia

Tercatat saat ini beberapa perusahaan global di dunia juga dipimpin oleh orang India. Orang India yang saya maksud di sini adalah orang dengan kewarganegaraan atau keturunan India. Sebut saja beberapa perusahaan global seperti Google, Microsoft, Nokia, Adobe, SanDisk, bahkan McKinsey & Company Inc. pernah dipimpin oleh seorang India.

Menarik memang untuk dikaji lebih jauh mengapa perusahaan global/multinasional di dunia lebih menerima orang India dibandingkan ras yang lain yang ada di seluruh dunia. Ada apa dengan mereka?



Tabel: Daftar 10 perusahaan global yang dipimpin oleh orang India

Dari data di atas kita dapat melihat bahwa para pemimpin perusahaan global ini adalah seseorang yang memiliki tingkat pendidikan yang baik, bahkan sangat baik. Hanya CEO Nokia saja yang hanya menuntaskan petualangan ilmu pengetahuannya sampai tinggat sarjana (bachelor degree), sisanya sebesar 90% para CEO global tersebut melanjutkan jenjang pendidikannya hingga ke tingkatan master degree.


Meski mayoritas memiliki latar pendikan sarjana teknik dan ilmu komputer, 80% para CEO di atas memiliki gelar MBA (Master of Business Administration). Mereka memilih untuk melanjutkan studi dan belajar tentang perusahaan dan bisnis karena dalam program MBA tersedia berbagai macam ilmu pengetahuan “baru” seperti keuangan, akuntansi, statistik, perilaku/budaya organisasi, ataupun SDM yang tidak mereka dapatkan di jenjang pendidikan sarjana sebelumnya. Pengetahuan baru itu akan sangat mereka butuhkan untuk melengkapi kecakapan dan pengetahuan teknis yang mereka sudah peroleh dalam pendidikan strata satu mereka.

Rajat Gupta, Managing Director McKinsey & Company Inc. menyelesaikan MBA-nya di Harvard Business School. Sundar Pichai menyelesaikan MBA-nya di seklolah bisnis terbaik di dunia, Wharton Business School di Universitas Pennsylvania. George Kurian menempuh MBA-nya di Stanford Graduate School of Business, tempat para founders dan pimpinan dari Big Tech Company seperti Tesla Motor, Ford, PayPall, eBay ataupun Youtube menyelesaikan gelarnya di sana. Nikesh Arora juga memiliki predikat MBA dari Kellog School. Dari data ini dapat diketahui bahwa Rajat Gupta, Sundar Pichai, George Kurian, Nikesh Arora dan CEO lainnya memiliki orientasi pendidikan tinggi yang sangat ambisius. Mereka tidak hanya menyelesaikan pendidikan sarjana di universitas teknik terbaik di India tapi melanjutkan pendidikannya ke sekolah bisnis yang juga memiliki reputasi yang sangat baik di dunia.


Orientasi atas pendidikan tinggi yang berkualitas yang dimiliki oleh para CEO di atas tentu akhirnya mematahkan mitos bahwa drop out dari perguruan tinggi, seperti yang dilakukan oleh Steve Jobs, Bill Gates atau Mark Zuckerberg, adalah pemakluman yang dapat dilakukan oleh seorang IT geeks (bahkan sebagian melihatnya sebagai “jalan” yang harus diteladani) yang berminat untuk membuat perusahaan digital-nya sendiri. Perlu diketahui bahwa Wharton Business School, Harvard Business School, Stanford Graduate School of Business (GSB), dan Kellog School di Northwestren University adalah empat dari lima sekolah bisnis terbaik di dunia, sisanya adalah Sloan School di MIT(Massachusetts Institute of Technology).

Ada sebuah buku menarik karangan George Berkowski yang berjudul “How to Build a Billion Dollar App”. Di dalam buku ini terungkap fakta bahwa founders sebuah perusahaan start up digital yang memiliki valuasi diatas 13 triliun rupiah adalah seorang/sekelompok orang yang memiliki tingkat pendidikan yang baik. Dari perusahaan start up digital yang diteliti, hanya 18,6 persen perusahaan yang didirikan oleh founders yang drop out. Mayoritas berpendidikan tinggi dengan urutan paling banyak lulus dari Stanford, Berkeley kemudian MIT.

Ada Apa dengan India?


Kenapa harus India, bukan ras lain yang ada di dunia? Apakah para achievers yang super ambisius ini mendapatkan perlakuan yang berbeda ketika kecil atau mereka memiliki DNA khusus yang berbeda dari ras lain? Apa saja yang membuat mereka berbeda dibandingkan yang lain?

Bekerja di perusahaan multinasional, tentu memiliki requirements yang berbeda dibandingkan bekerja di perusahaan lokal, bahkan internasional sekalipun. Untuk bekerja di perusahaan multinasional, dibutuhkan beberapa kemampuan (skill) khusus untuk dapat survive dan juga berkembang di sebuah perusahaan multikultur ini.

Rajessh Deb Roy menjabarkan beberapa sikap yang dibutuhkan oleh seorang profesional untuk dapat berkembang dan memiliki karir yang baik perusahaan multinational/global, diantaranya adalah: drive and persistence (memiliki dorongan yang kuat dan gigih), quantitative and analytical prowess (memiliki kecakapan kuantitatif dan analisis), communication skills (kemampuan komunikasi), capacity for collaboration (kemampuan dalam berkolaborasi), crisis management ability (­­­­­­­­­kemampuan untuk mengelola krisis), dealing with hierarchies and with peers (kemampuan dalam bekerja dengan orang lain dan berada dalam hirarki), innovativeness (kecakapan dalam berinovasi), tact and diplomacy (memiliki kebijaksanaan dan kemampuan berdiplomasi), dan optimizing resources (kemampuan untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada).


Lalu apa yang spesial dengan India sehingga seakan-akan budaya atau kondisi lingkungan di negara mereka fit in dengan budaya kerja perusahaan multinasional yang ada di dunia saat ini, mari kita jabarkan satu per satu:

Memiliki Dorongan yang Kuat dan Tahan Banting

Kelas menengah di India memiliki kultur yang cukup unik. Persaingan antar individu di India sangat kental dan kuat. Boleh dikatakan, tidak ada yang namanya “urutan kedua” dalam budaya kelas menengah mereka. Maka tak jarang dengan kultur seperti itu, tidak ada keluarga kelas menengah di India yang tidak menanamkan budaya bersaing yang kuat sejak dini. Belum lagi ketika mereka berjuang untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Dapat dipastikan orang yang hanya kualifikasi terbaik yang akan mendapatkannya. Tidak selesai sampai di sana, setelah sampai negara tujuan sekolah, mereka juga dituntut untuk beradaptasi dengen lingkungan yang baru, sistem sosial, masyarakat, dan pendidikan yang juga baru. Untuk itulah maka akan jamak kita temui orang India yang sangat bekerja keras dan rajin belajar ketika sudah memasuki jenjang pascasarjana di luar negeri. Perjuangan, dorongan yang kuat dan kemampuan tahan banting itulah yang menjadi modal awal orang India berkarir di perusahaan global.


Dua hal terebut menjadi lebih powerful ketika kemempuan masyarakat India meet dengan kebutuhan Industri saat ini. Seperti kita tahu bahwa saat ini, dunia kita sudah jauh berbeda. Dunia kita hari ini dikejutkan dengan banyak sekali fenomena “kekacauan” yang disebabkan oleh teknologi. Tesla Motor Inc. berpotensi menggantikan superioritas industri kendaraan bermotor bertenaga fuel dan perusahaan raksasa minyak bumi, serta tambang batu bara. Ada juga Google lewat Android dan Apple dengan iOS-nya yang berhasil dengan baik mengalahkan perusahaan teknologi besar Eropa, Nokia. Belum lagi Air BnB yang telah mengubah lanskap industri pariwisata di Dunia, dan juga Uber yang akan menghancurkan perusahaan transportasi konvensional.

Fakta yang menarik adalah, dapat dipastikan bahwa di semua perusahaan teknologi tersebut, terdapat orang India di dalamnya. Ada ada dengan orang-orang India?

Sebuah kenyataan yang memang patut diapresiasi bahwa masyarakat kelas menengah India memiliki obsesi dan juga ketertarikan lebih untuk masuk ke dalam institusi pendidikan berkualitas yang memiliki jurusan teknik atau ilmu pengetahuan alam. Maka tidak heran keberadaan orang India di banyak perusahaan teknologi bergengsi di dunia diakibatkan karena budaya mereka yang memang concern terhadap bidang ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut.

Budaya Ambisius dan Suportif dari Keluarga dan Mentor


Latar belakang dan pekerjaan seseorang mempengaruhi bagaimana cara dia sebagai orang tua mendidik dan memberikan perspektif untuk anak dan keluarganya. Ayah CEO Google, Sundar Pichai bekerja sebagai insinyur elektirikal di General Electric. Ayah dari CEO Microsoft, Satya Nadella adalah pegawai pemerintah. Ayah dari CEO Pepsico, Indra Nooyi, bekerja di bank. CEO Master Card, Ajay Banga, memiliki ayah yang bekerja di industri keamanan India. Semua profil orang tua dari para CEO di atas adalah profil dari keluarga kelas menengah yang bekerja di perusahaan negara atau swasta, bukan pedagang.

Bekerja di perusahaan tentu menuntut mereka berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai macam perspektif. Belum lagi kebutuhan mereka atas informasi akan membuat mereka memiliki standar tertentu akan suatu hal. Interaksi kepada banyak orang dan akses informasi yang baik tersebutlah yang nantinya akan menjadi dasar standar mendidik dan “pengharapan” orang tua India kepada para anak-anaknya.

Dalam kebudayaan India, juga penting dan sakral untuk hormat kepada mentor atau seseorang yang dituakan, seperti orang tua misalnya. Dengan memiliki keterikatan yang kuat kepada mentor atau orang yang dituakan, para anak-anak muda India dapat belajar lebih banyak kepada mereka tentang pengalaman, kebijakan, ilmu pengetahuan baru, tricks, ataupun hal-hal lain yang si mentor (orang tua) miliki. Kedekatan dengan para mentor seperti ini mungkin yang tidak begitu didapatkan di dalam budaya barat.


Berdasarkan pola hubungan tersebutlah maka kadang secara diminta atau tidak, para mentor memberikan jalan (sering kali dengan paksaan) kepada anak-anak di keluarganya untuk dapat meraih kesuksesan di masa depan. Tentu hal ini bisa jadi poin yang positif, juga negatif. Salah satu referensi yang cukup populer dalam melihat bagaimana cara orang tua di India mendidik anak-anak mereka dapat kita lihat di film “ 3 Idiots”. Dalam film itu dilukiskan bagaimana para orang tua menanamkan ambisi untuk sukses kepada anak-anaknya, khususnya dalam bidang sains dan teknologi.

Mereka akan melakukan segala macam cara agar anaknya dapat menempuh jenjang pendidikan tinggi dan berkualitas. Dengan penuh tekanan dan dorongan, mereka melakukan apapun agar anak-anaknya menjadi sosok yang membanggakan. Selayaknya untuk mereka sukses bukanlah pilihan, tapi keharusan yang harus dipenuhi.

Kemampuan Komunikasi, Bekerja Sama dan Sensitivitas Lintas Budaya

Rata-rata masyarakat menengah di India memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang baik. Kemampuan Bahasa Inggris tesebutlah yang nantinya akan mengantarkan anak-anak India untuk dapat masuk dengan relatif lebih mudah ke sekolah bisnis dan teknik terbaik di Amerika dan dunia. Kemampuan Bahasa Inggris yang baik ini juga dilengkapi oleh kemampuan berkomunikasi, berdebat dan beretorika yang juga tidak kalah baik. Perihal karakteristik masyarakat India yang lihai “berkomunikasi” ini pernah sampaikan oleh Amartya Sen, seorang peraih nobel berdarah India, lewat bukunya “The Argumentative Indian”.


Kamampuan berkomunikasi yang baik ini juga dihasilkan dari sistem negara yang menjunjung tinggi nilai demokrasi. Di sana, tidak boleh ada pemaksaan atas sesuatu kepada orang lain, seperti yang terjadi di negara otoriter. Untuk itulah maka kemampuan berkomunikasi, dapat bekerja dalam tim, meyakinkan orang lain dan juga berkolaborasi menjadi sesuatu yang “mendarah daging” di India. Sejak kecil, masyarakat India memang sudah dituntut oleh lingkungannya untuk dapat mengembangkan kemampuan interpersonal tersebut. Maka tidak heran orang-orang India dapat sukses memiliki karir di perusahaan karena kemampuannya itu.

Orang India juga sangat terobsesi untuk bersekolah di tempat yang memiliki nilai prestise. Dalam mengejar institusi pendidikan yang baik tentu memerlukan upaya lebih, selain kemampuan Bahasa Inggris tentunya. Dalam rangka mendapatkan pendidikan yang berkualitas, tidak jarang dari mereka harus pergi dari tanah kelahirannya di satu daerah tertentu untuk belajar ke daerah/negara yang lain yang memiliki budaya yang berbeda. Untuk itu dapat dipahami jika beberapa orang India (tertutama para CEO di atas) memiliki kemampuan beradaptasi dan memiliki sensitivitas lintas budaya yang baik. Hal itulah yang nantinya akan berguna bagi para orang India untuk dapat survive di negara lain ataupun ketika mereka bekerja di dalam perusahaan yang memiliki budaya yang berbeda.

Kecakapan dalam Berinovasi, Mengelola Krisis dan Mengoptimalkan Sumber Daya yang Ada


Sebagai negara berkembang, India juga Indonesia, memiliki tingkat ketidakstabilan yang relatif tinggi. Dengan tingkat ketidakstabilan yang relatif tinggi maka orang India memiliki potensi untuk berhadapan dengan krisis yang juga besar, seperti bentrokan antar etnis atau agama yang kerap terjadi di India, permasalahan transportasi, kemiskinan yang menyeruak, masalah kebersihan dan kesehatan serta permasalahan khas negara berkembang lainnya.

Tumbuh dan berkembang di lingkungan yang serba susah (juga tidak stabil) membuat anak-anak dan remaja di India dituntut untuk selalu memaksimalkan apa yang ada, melakukan optimalisasi atas setiap hambatan yang dihadapi dan berinovasi ketika menemukan kendala.

Jika Anda pernah ke India, Anda akan melihat banyak sekali sekolah di sana yang tidak memiliki fasilitas yang layak. Ajaibnya, para pelajar di sana, dengan tingkat kompetisi yang sangat kuat, mampu mengatasi berbagai permasalahan tersebut dengan baik. Anak-anak India yang lahir, tumbuh dan berkembang di lingkungan seperti itu tentu memiliki kemampuan adaptasi dan crisis management yang relatif lebih baik, dibandingkan dengan negara maju yang sudah sangat stabil dan mapan. Hal inilah yang membuat orang India mampu menghadapi tekanan besar dan secara relatif mampu memberikan solusi yang baik ketika bekerja di perusahaan multinasional di masa depan.

India dan Kita


Berdasarkan rilis dari McKinsey Global Institute (MGI), kita dapat ketahui bahwa sejak program reformasi ekonomi yang dilakukan sejak awal tahun 90-an, India telah berhasil mencapai perkembangan yang baik dalam pengentasan kemiskinan. Tingkat kemiskinan di negara para Dewa itu turun dari 45% pada tahun 1994 menjadi 37% di tahun 2005. Sejak rentang tahun tersebut (1994 – 2005), GDP India terus tumbuh sebesar 8.5% persen dan berhasil menurunkan rasio masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan dari 37% hingga 22%. Dari rasio tersebut, sebanyak 137 juta orang dapat lepas dari bayang-bayang “hidup di bawah garis kemiskinan”. Perkembangan yang sangat progresif.


Meski demikian, riset yang dilakukan oleh MGI di tahun 2012 juga menunjukan bahwa sebanyal 56% dari total populasi atau sekitar 680 juta orang India masih hidup di bawah “MGI Empowerment Line”. Perlu diketahui bahwa MGI Empowerment Line adalah sebuah framework analisis yang dikembangkan oleh McKinsey Global Institute dalam menentukan garis batas yang menentukan seberapa besar level konsumsi yang dibutuhkan untuk memenuhi 8 kebutuhan dasar seperti: makanan, air minum, energi, sanitasi, rumah layak, kesehatan, pendidikan dan hal-hal yang berkaitan dengan faktor keamanan sosial lainnya.

India memang unggul saat ini dalam hal kemampuannya mencetak generasi sains dan teknologi terbaik yang diharapkan dunia, tapi di sisi lain data menjelaskan bahwa saat ini juga telah terjadi kensenjangan yang luar biasa di negara tersebut.

Hari ini, India membutuhkan para CEO terbaiknya untuk kembali membangun tanah para leluhur, seperti yang dilakukan Rajat Gupta, mantan worldwide managing director McKinsey. Dengan pengalaman dan jejaring bisnis yang dimilikinya dari McKinsey dan Harvard, ia bersama rekan India-nya “pulang kampung” dan mendirikan Indian School of Business. Di bawah kepemimpinannya, ia berhasil menjadikan institusi pendidikan tersebut menjadi salah satu business school terbaik di dunia dan tentunya prestasi ini memiliki dampak positif terhadap perkembangan pertumbuhan ekonomi India.

Saya yakin Indonesia dengan segala potensinya juga bisa menyamai India dalam hal supply SDM unggul dan kemampuannya untuk berprestasi di tingkat global.


Saya yakin, tapi entah kapan dapat terwujud.

Sumber : Sb Flash Group ( www.sbflash.com )


LABEL BAWAH

0 komentar:

Posting Komentar